Sebagian orang dihebohkan dengan fenomena seorang wanita bercadar yang memelihara anjing. Setelah itu, beberapa konten yang menganggap baik memelihara anjing pun mulai bermunculan hingga saat ini. Bagaimanakah Islam memandang hal tersebut?! Seorang mukmin selayaknya menilai segala hal dengan ilmu, bukan semata atas dasar “rasa jijik” tidak berdasar pada anjing atau pun atas dasar kasihan secara berlebihan kepada hewan tersebut.
Yang dibahas di sini tentang hukum memeliharanya, bukan kenajisannya. Sebab permasalahan najis atau tidaknya anjing berbeda dengan permasalahan hukum memeliharanya. Kami katakan demikian karena sebagian orang dungu ada yang berusaha memperbolehkan memelihara anjing secara mutlak dengan berdalih perselisihan para ulama terkait kenajisan anjing dan air liurnya. Padahal hukum memelihara anjing tidak memiliki hubungan signifikan dengan najis atau tidaknya anjing, meski para ulama yang menganggapnya najis menjadikan kenajisannya sebagai salah satu alasan larangan memelihara anjing.
Memelihara Anjing
Rasulullah dahulu pernah memerintahkan agar membunuh anjing secara umum tatkala beliau mengetahui bahwa malaikat tidak bisa masuk pada sebuah tempat yang terdapat anjing di dalamnya. Maymunah istri Nabi mengisahkan:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصْبَحَ يَوْمًا وَاجِمًا، فَقَالَتْ مَيْمُونَةُ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَقَدِ اسْتَنْكَرْتُ هَيْئَتَكَ مُنْذُ الْيَوْمِ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ جِبْرِيلَ كَانَ وَعَدَنِي أَنْ يَلْقَانِي اللَّيْلَةَ فَلَمْ يَلْقَنِي، أَمَ وَاللهِ مَا أَخْلَفَنِي، قَالَ: فَظَلَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَهُ ذَلِكَ عَلَى ذَلِكَ، ثُمَّ وَقَعَ فِي نَفْسِهِ جِرْوُ كَلْبٍ تَحْتَ فُسْطَاطٍ لَنَا، فَأَمَرَ بِهِ فَأُخْرِجَ، ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِهِ مَاءً فَنَضَحَ مَكَانَهُ، فَلَمَّا أَمْسَى لَقِيَهُ جِبْرِيلُ، فَقَالَ لَهُ: "قَدْ كُنْتَ وَعَدْتَنِي أَنْ تَلْقَانِي الْبَارِحَةَ" قَالَ:" أَجَلْ، وَلَكِنَّا لَا نَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةٌ" فَأَصْبَحَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَئِذٍ، فَأَمَرَ بِقَتْلِ الْكِلَابِ حَتَّى إِنَّهُ يَأْمُرُ بِقَتْلِ كَلْبِ الْحَائِطِ الصَّغِيرِ وَيَتْرُكُ كَلْبَ الْحَائِطِ الْكَبِيرِ
“Rasulullah suatu hari pernah mengalami kegelisahan. Maymunah pun berkata, “Aku heran melihat sikapmu sejak hari ini.” Rasulullah bersabda, “Sungguh Jibril berjanji kepadaku akan menemuiku malam ini, namun ia tidak datang menemuiku. Padahal demi Allah, ia tidak pernah menyelisihi janjinya padaku sama sekali.” Rasulullah terus menjalani hari beliau dalam kondisi seperti itu. Kemudian beliau menemukan anak anjing di bawah salah satu tiang rumah kami. Beliau pun memerintahkan agar anjing itu dikeluarkan. Lalu beliau mengambil air di tangan beliau kemudian memercikkan bekas tempat anjing tersebut. Ketika petang, Jibril menemui beliau, kemudian beliau menanyainya: “Engkau telah berjanji untuk menemuiku kemarin malam.” Jibril menjawab, “Ya, tapi kami tidak memasuki rumah yang terdapat anjing dan lukisan di dalamnya.” Hari itu, Rasulullah akhirnya memerintahkan untuk membunuh anjing, hingga beliau memerintahkan untuk membunuh anjing penjaga dinding yang kecil dan membiarkan anjing yang menjaga dinding yang besar.” (HR. Muslim: 2105)
Ini menunjukkan adanya larangan memelihara anjing, di mana Jibril menyamakan anjing dengan lukisan makhluk bernyawa. Tidak masuknya malaikat ke dalam rumah seorang muslim menunjukkan perkara tersebut bukanlah hal yang remeh di sisi Allah. Ini semakin diperkuat dengan sabda Rasulullah:
مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا لَيْسَ بِكَلْبِ مَاشِيَةٍ أَوْ ضَارِيَةٍ نَقَصَ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ عَمَلِهِ قِيرَاطَانِ
“Barangsiapa yang memelihara anjing, bukan anjing penjaga ternak atau anjing pemburu, amalnya akan berkurang 2 qirath setiap hari.” (HR. Al-Bukhari: 5480 dan Muslim: 1574 dari Abdullah bin Umar)
Dalam riwayat lain:
مَنِ اتَّخَذَ كَلْبًا إِلَّا كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ صَيْدٍ أَوْ زَرْعٍ انْتَقَصَ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ
“Barangsiapa yang memelihara anjing selain anjing penjaga ternak, atau pemburu, atau penjaga kebun, akan berkurang amalnya 1 qirath setiap hari.” (HR. Muslim: 1575 dari Abu Hurairah)
Jikalau memelihara anjing bukanlah dosa, pastinya hal itu tidak akan berakibat pada berkurangnya amal orang yang memeliharanya. Tetapi, karena besarnya dosa memelihara anjing-lah yang menyebabkan berkurangnya pahala para pemeliharanya dan itu terjadi setiap hari.
Qadhi Iyadh Al-Maliki mengatakan,
أمَّا إذَا حُبِسَتِ الكِلاَبُ لِغَيرِ مَنفَعَةٍ وَحَاجَةٍ إِلَيهَا فَإِنَّ ذَلِكَ مَمْنُوعٌ مِنهُ لِمَا فِيهَا مِنْ تَرْوِيعِ المُسْلمِينَ وَالتَّوثِبِ عَلَيهِمْ. وَإِذَا دَعَتِ الضَّرُورَةُ لِاِقْتِنَائِهَا لِلتَّكَسُّبِ بِهَا فِي الصَّيدِ أَوْ حِرَاسَةِ المَالِ كَانَت ِالحَاجَةُ إِلَيهَا فِي تَكَسُّبِ المَالِ أَوْ حِرَاسَةِ تَدْعُو لِإِجَازَةِ اقْتِنَائِهَا
“Adapun jika anjing dipelihara bukan karena adanya manfaat dan keperluan, maka hal itu terlarang disebabkan akan mengganggu dan menyakiti umat Islam. Apabila karena memang diperlukan untuk digunakan dalam berburu atau menjaga harta, maka hajat untuk mencari keperluan harta dan menjaganya menuntut kebolehan dalam memeliharanya.” (Al-Mu’lim bi Fawaid Muslim, 2/293)
Imam An-Nawawi Asy-Syafii mengatakan,
فَهَذَا نَهْيٌ عَنِ اقْتِنَائِهَا وَقَدِ اتَّفَقَ أَصْحَابُنَا وَغَيْرُهُمْ عَلَى أَنَّهُ يَحْرُمُ اقْتِنَاءُ الْكَلْبِ لِغَيْرِ حَاجَةٍ مِثْلُ أَنْ يَقْتَنِي كَلْبًا إِعْجَابًا بِصُورَتِهِ أَوْ لِلْمُفَاخَرَةِ بِهِ فَهَذَا حَرَامٌ بِلَا خِلَافٍ وَأَمَّا الْحَاجَةُ الَّتِي يَجُوزُ الِاقْتِنَاءُ لَهَا فَقَدْ وَرَدَ هَذَا الْحَدِيثُ بِالتَّرْخِيصِ لِأَحَدِ ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ وَهِيَ الزَّرْعُ وَالْمَاشِيَةُ وَالصَّيْدُ وَهَذَا جَائِزٌ بِلَا خِلَافٍ
“Hadits ini merupakan dalil larangan memelihara anjing dan para penganut madzhab kami serta ulama lainnya telah sepakat mengenai haramnya memelihara anjing tanpa adanya hajat, seperti memelihara anjing karena kagum pada bentuk tubuhnya atau demi menyombongkan diri, maka hal tersebut haram tanpa ada perselisihan. Adapun jika karena adanya hajat yang menyebabkan perlunya memelihara anjing, maka hadits ini telah meriwayatkan adanya keringanan dalam memelihara salah satu ketiga jenis anjing tersebut, yakni anjing penjaga kebun, penjaga ternak, dan pemburu sehingga hal tersebut boleh tanpa ada perselisihan (para ulama)...” (Al-Minhaj fi Syarh Shahih Muslim, 3/186)
Imam Ibnu Qudamah Al-Hanbali mengatakan,
وَلَا يَجُوزُ اقْتِنَاءُ الْكَلْبِ، إلَّا كَلْبَ الصَّيْدِ أَوْ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ حَرْثٍ؛ لِمَا رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَنَّهُ قَالَ: مَنْ اتَّخَذَ كَلْبًا إلَّا كَلْبَ صَيْدٍ أَوْ مَاشِيَةٍ أَوْ زَرْعٍ، نَقَصَ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ
“Tidak boleh memelihara anjing selain anjing pemburu atau anjing penjaga ternak atau anjing penjaga kebun, berdasarkan riwayat hadits dari Abu Hurairah, dari Nabi, bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa yang memelihara anjing selain anjing penjaga ternak, atau pemburu, atau penjaga kebun, akan berkurang amalnya 1 qirath setiap hari.” (Al-Mughni, 4/191)
Al-Hafizh Al-Aini Al-Hanafi mengatakan,
فَإِن قُلْتَ: هَلْ يَجُوزُ اتِّخَاذُهُ لِغَيرِ الْوُجُوهِ الْمَذْكُورَةِ؟ قُلْتُ: قَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ مَا حَاصِلُهُ: إِنَّ هَذِهِ الْوُجُوهَ الثَّلَاثَةَ تَثْبُتُ بِالسُّنَّةِ، وَمَا عَداهَا فَدَاخِلٌ فِي بَابِ الْحَظْرِ
“Jika kalian tanyakan, “Apakah boleh memelihara anjing selain ketiga sebab tersebut? Aku katakan, bahwa Ibnu Abdil Barr menjelaskan yang intinya, “Ketiga sebab tersebut ditegaskan oleh Sunnah, maka memelihara anjing untuk selain ketiga sebab tersebut, masuk pada bab hadzhr (larangan yang bermakna haram)....” (Umdah Al-Qary Syarh Shahih Al-Bukhari, 12/158)
Imam Ibnu Hazm Adz-Dzhahiri mengatakan:
وَلَا يَحِلُّ اتِّخَاذُ كَلْبٍ أَصْلًا إلَّا لِمَاشِيَةٍ أَوْ لِصَيْدٍ أَوْ لِزَرْعٍ أَوْ لِحَائِطٍ وَاسْمُ الْحَائِطِ يَقَعُ عَلَى الْبُسْتَان
“Asalnya tidak halal memelihara anjing kecuali untuk menjaga ternak, berburu, menjaga kebun atau pagar dan pembatas yang dibuat di kebun....” (Al-Muhalla bi Al-Atsar, 7/493)
Dari sini terlihat bagaimana para ulama mengharamkan memelihara anjing tanpa kebutuhan dan hajat. Bahkan Imam An-Nawawi menukilkan adanya ijma (kesepakatan para ulama) akan hal itu. Ijma’ tersebut juga yang diisyaratkan oleh Al-Hashakafi Al-Hanafi. Artinya, Jika tujuan memelihara anjing tersebut untuk menjaga kebun, menjaga ternak, atau kepentingan berburu, maka hal itu halal dan tidak mengapa. Itu pun dengan syarat anjing tersebut tidak dipelihara di dalam rumah. Namun jika pemeliharaan itu dilakukan hanya atas dasar hobi, kasihan, atau takjub pada anjing, atau sebab lainnya yang tiada hajat dan keperluan di dalamnya, maka hal tersebut haram dan terlarang secara mutlak. Terlebih di Indonesia yang mayoritas penduduknya menganggap anjing adalah hewan najis dengan najis besar –mengikuti pandangan madzhab Syafii dan Hanbali-, maka tidak selayaknya hal itu dilakukan. Bagi seorang muslim, mengikuti perintah Rasulullah dan menjauhi larangan beliau harus lebih diprioritaskan daripada selera maupun hasrat yang berasal dari dirinya sendiri. Wallahu a’lam
By