A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: array_key_exists(): The first argument should be either a string or an integer

Filename: core/MY_Lang.php

Line Number: 156

Backtrace:

File: /home/nfyflskd/public_html/application/core/MY_Lang.php
Line: 156
Function: array_key_exists

File: /home/nfyflskd/public_html/application/core/MY_Lang.php
Line: 55
Function: default_lang

File: /home/nfyflskd/public_html/index.php
Line: 299
Function: require_once

Muslim Tapi Fobia Arab | ARAH JALAN MEDIA
PERSPECTIVE

Muslim Tapi Fobia Arab

uploads/news/muslim-tapi-fobia-arab-23277414f81b074.jpg

Islam adalah agama yang universal. Islam tidak pernah memandang seseorang dari suku maupun bangsanya. Islam juga tidak mengenal superioritas dalam hal ras. Islam juga tidak pernah mengajarkan untuk merendahkan bangsa atau suku tertentu. Hal itu amat dikecam oleh Islam. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ

“Wahai orang-orang beriman, janganlah sebuah kaum merasa angkuh atas kaum lainnya. Bisa jadi kaum tersebut lebih baik daripada mereka. Demikian juga wanita (dari kaum itu merasa angkuh) atas wanita (kaum) lainnya. Bisa jadi wanita tersebut lebih baik dari wanita (kaum yang angkuh tersebut)...” (QS. Al-Hujurat: 11)

Islam mempersamakan suku dan bangsa. Islam tidak pernah mengukur kebenaran dari suku bangsa tertentu. Tidak juga menjadikan suku tertentu sebagai paramater hina atau tidaknya seseorang. Islam justru menjadikan agama dan takwa sebagai tolok ukur mulia atau tidaknya manusia. Perbedaan suku bangsa adalah sebuah keniscayaan yang pasti terjadi, di mana setiap manusia tidak bisa memilih ia akan berasal dari suku dan bangsa mana. Maka tidak elok jika menjadikan suku bangsa sebagai dasar penilaian baik atau tidaknya suku bangsa itu sendiri. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang lelaki dan perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal (satu sama lainnya). Sungguh yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling takwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.(QS. Al-Hujurat: 13)

Alangkah indahnya khutbah Rasulullah tatkala beliau berhasil menaklukkan Makkah dan melaksanakan haji untuk terakhir kalinya. Beliau berkhutbah di hadapan seluruh umat Islam yang hadir pada saat itu. Suatu khutbah yang disaksikan oleh ribuan manusia, guna diingat dan dikenal oleh umat Islam untuk selama-lamanya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا أَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى

“Wahai manusia, ketahuilah bahwa Tuhan kalian esa dan bahwa ayah kalian satu. Ketahuilah, tiada keutamaan orang Arab atas orang Ajam (non Arab) dan tiada keutamaan orang Ajam atas orang Arab. Demikian juga, tiada (keutamaan) ras kulit merah atas kulit hitam dan tidak pula ras kulit hitam atas kulit merah, kecuali dengan takwa...” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad: 23489 dari Jabir bin Abdillah)

Lihatlah sabda Nabi ini. Jauh sebelum Nelson Mandela mengampanyekan anti politik apartheid dan rasisme, Islam sudah lama menentang rasisme dan berusaha melenyapkannya dari muka bumi. Islam adalah agama yang paling tegas dalam menghapus etnosentrisme, primordialisme, rasisme, dan fasisme di saat benua Eropa dan Amerika masih berkutat pada isu-isu tersebut bahkan hingga hari ini. Karena Islam hanya mengenal ukhuwwah sebagai simbol ikatan sesama muslim, bukan selainnya.

Meski Allah menghendaki Nabi akhir zaman lahir dari Jazirah Arab, berasal dari bangsa Arab, dan bahasa pengantar agama-Nya adalah bahasa Arab, bukan berarti Islam merendahkan seluruh bangsa selain bangsa Arab dan memerintahkan manusia agar menjadi budak untuk bangsa Arab. Berbeda dengan fanatisme bangsa Eropa yang arogan dengan supremasi ras kulit putih mereka, lalu menganggap selain ras mereka sebagai ras rendah yang harus tunduk kepada mereka. Justru pada beberapa kesempatan kita menemukan bagaimana Nabi memuji bangsa tertentu di luar bangsa Arab. Di antara pujian Nabi kepada bangsa selain Arab disebutkan dalam hadits berikut. Abu Hurairah mengisahkan:

كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأُنْزِلَتْ عَلَيْهِ سُورَةُ الجُمُعَةِ: "وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ" قَالَ: قُلْتُ: "مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟" فَلَمْ يُرَاجِعْهُ حَتَّى سَأَلَ ثَلاَثًا وَفِينَا سَلْمَانُ الفَارِسِيُّ، وَضَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ عَلَى سَلْمَانَ، ثُمَّ قَالَ: "لَوْ كَانَ الإِيمَانُ عِنْدَ الثُّرَيَّا، لَنَالَهُ رِجَالٌ - أَوْ رَجُلٌ - مِنْ هَؤُلاَءِ"

“Kami pernah duduk-duduk di sekitar Nabi, lalu turunlah atas beliau surat Al-Jumu’ah: “Dan kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka...” (QS. Al-Jumu’ah: 3), aku pun bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Namun beliau tidak menjawabnya sampai beliau ditanyai sebanyak 3 kali dan saat itu di tengah kami ada Salman Al-Farisi. Nabi pun meletakkan tangan beliau pada Salman, lalu bersabda, “Andaikan iman terdapat di rasi bintang Tsurayya, niscaya sebagian orang dari mereka akan mendapatkannya.” (HR. Al-Bukhari: 4897 dan Muslim: 2546)

Ibnu Katsir mengatakan, “dalam hadits ini terkandung dalil bahwa surat ini madaniyyah (turun setelah Nabi hijrah) dan berlakunya semua risalah Nabi kepada seluruh manusia. Sebab beliau menafsirkan firman Allah “Dan kaum lain dari mereka” sebagai bangsa Persia. Karena itulah Nabi menulis surat kepada bangsa Persia, Romawi, dan non Arab lainnya guna mendakwahi mereka untuk mentauhidkan Allah dan mengikuti ajaran beliau. Karena ini jugalah Mujahid dan ulama tafsir lainnya berkata tentang ayat ini: ”Mereka adalah orang-orang Ajam (non Arab) dan siapa saja yang mengimani Nabi dari selain bangsa Arab.” (Tafsir Al-Quran Al-‘Adzhim, 8/116)

Rasulullah juga bersabda tentang Mesir:

إِنَّكُمْ سَتَفْتَحُونَ مِصْرَ وَهِيَ أَرْضٌ يُسَمَّى فِيهَا الْقِيرَاطُ، فَإِذَا فَتَحْتُمُوهَا فَأَحْسِنُوا إِلَى أَهْلِهَا فَإِنَّ لَهُمْ ذِمَّةً وَرَحِمًا

“Sungguh kalian akan membuka negeri Mesir dan ia adalah tanah yang biasa disebut “banyak qirath”. Apabila kalian telah membukanya, maka berbuat baiklah kepada penduduk aslinya. Sebab mereka memiliki kemuliaan dan kasih sayang.” (HR. Muslim: 2543 dari Abu Dzar Al-Ghifari).

Orang yang belajar sejarah dengan benar akan tahu bahwa Mesir asalnya bukanlah negeri Arab. Karena penduduk aslinya adalah suku Qibthi, suku aslinya Firaun yang dahulu pernah berhadapan dengan Nabi Musa dan Nabi Harun. Tetapi, setelah Islam sampai di Mesir, penduduknya banyak yang masuk Islam dan akhirnya menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa mereka tanpa melupakan bahasa Qibthi (Koptik) sebagai bahasa ibu mereka. Sebagian mereka yang tidak masuk Islam tetap mempertahankan agama mereka sebelum Islam datang, yaitu agama Kristen Koptik. Di sisi lain kita menemukan bahwa ternyata sebagian shahabat Nabi ada yang tidak berasal dari bangsa Arab. Di antaranya adalah Salman Al-Farisi yang berasal dari Persia, Bilal bin Rabah dari Etiopia, dan Abdullah bin Salam dari Bani Israil. Ketiga shahabat non Arab tersebut memiliki keutamaan dan keistimewaan tersendiri bagi Rasulullah, karena termasuk di antara manusia yang dijamin Rasulullah masuk ke dalam surga. Bahkan salah seorang Istri Nabi, yakni Shafiyyah binti Huyay berasal dari Bani Israil, bukan Bani Ismail (bangsa Arab). Lihat bagaimana Rasulullah mencela keras Shahabat Abu Dzar ketika mencela ibu seseorang karena ibunya orang ‘ajam (non Arab) dan Rasulullah menyebutnya sebagai bagian dari kejahiliyah. Shahabat Abu Dzarr mengatakan,

إِنَّهُ كَانَ بَيْنِي وَبَيْنَ رَجُلٍ مِنْ إِخْوَانِي كَلَامٌ، وَكَانَتْ أُمُّهُ أَعْجَمِيَّةً فَعَيَّرْتُهُ بِأُمِّهِ، فَشَكَانِي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَقِيتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: "يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ

“Sungguh pernah terjadi perdebatan antara aku dengan seseorang dari saudaraku (sesama muslim). Ibunya adalah orang ‘ajam (non Arab), maka aku pun menjelekkan ibunya. Ia pun mengadukanku kepada Nabi. Aku bertemu kepada Nabi, lalu beliau bersabda, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau adalah seseorang yang di dalam dirimu masih ada kejahiliyahan.” (HR. Al-Bukhari: 30 dan Muslim: 1661. Ini redaksi Muslim)

Lihat bagaimana Rasulullah membela orang yang ibunya dicela oleh Abu Dzar tersebut hanya karena ibunya bukan orang Arab. Rasulullah justru menegur keras Abu Dzar. Rasulullah bersabda mengenai orang yang memiliki loyalitas buta terhadap kelompok, suku, ras, atau bangsanya,

مَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَدْعُو عَصَبِيَّةً أَوْ يَنْصُرُ عَصَبِيَّةً فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

“Barangsiapa yang terbunuh di bawah bendera fanatisme buta yang menyeru pada tribalisme atau menolong tribalisme, maka kematiannya adalah kematian jahiliyah.” (HR. Muslim: 1850 dari Jundub bin Abdillah Al-Bajali)

Ashabiyyah atau tribalisme adalah sikap fanatisme berlebihan terhadap suku, kelompok, atau golongannya sendiri, sehingga menganggap rendah atau hina suku atau kelompok lainnya. Islam mencap sikap seperti ini sebagai kejahiliyahan yang tercela dan tidak patut untuk dipertahankan. Demikian Islam memandang suku bangsa dan ras. Islam tidak mengenal sistem kasta sebagaimana di India, juga tidak mengenal sistem rasis superioritas kulit putih yang hingga sekarang masih menjadi problematika di Eropa dan Amerika. Bahkan meski kekristenan tlah berurat berakar di sana, tetap belum dapat menghilangkan problematika tersebut. Berbeda dengan Islam. Islam bukan agama Arab, bukan hanya agama untuk orang Arab, bukan agama buatan orang Arab, tetapi agama yang Allah turunkan untuk seluruh umat manusia tanpa memandang suku dan bangsa tertentu. Ajarannya pun bukan berasal dari gubahan bangsa Arab tetapi berasal dari wahyu Ilahi. Justru Islam datang untuk mengoreksi sebagian besar tradisi bangsa Arab yang karena itulah Rasulullah dan para shahabat mendapat tekanan dalam menyebarkan dakwah Islam di awal era dakwah. Ini terbukti ketika Islam menyebar ke berbagai negeri non Arab, para penduduknya tetap dibiarkan mempertahankan budaya dan tradisi asli mereka. Mereka tidak ter-arab-kan hanya karena mereka menganut Islam. Bahkan pasukan Tar-tar Mongol banyak yang akhirnya menganut Islam tanpa terpengaruh dengan budaya Arab sama sekali setelah mereka berinteraksi dengan kaum muslimin, walau interaksi tersebut diawali dengan gesekan militer (pertempuran). Padahal mereka bangsa yang sangat fanatik terhadap budaya dan tradisi mereka, serta cenderung acuh tak acuh terhadap agama.

Hari ini justru kita melihat ada sebagian kelompok yang mengaku muslim melakukan pemisahan ajaran Islam. Mereka menyebut ada Islam versi mereka dengan istilah “Islam Nusantara”, lalu menjustifikasi muslim lain yang tidak sama dengan mereka melalui istilah “Islam Arab.” Mereka juga banyak melakukan penghinaan terhadap bangsa Arab, padahal bangsa Arab tidak memiliki salah apa pun terhadap mereka. Mereka bubuhi istilah-istilah cemoohan tatkala mereka menyinggung bangsa Arab. Apa salah bangsa Arab kepada mereka?! Mereka juga mencela beberapa kebiasaan yang mereka klaim sebagai budaya Arab seperti mengenakan cadar, memelihara jenggot, hingga orang yang memakai kosakata Arab tatkala berkomunikasi juga tak lepas dari celaan mereka. Pada saat yang sama, mereka justru diam tatkala budaya Barat, Korea, Jepang, Cina, hingga India masuk ke negeri ini. Mereka hanya diam dan cenderung mendukung infiltirasi budaya-budaya tersebut yang cenderung merusak adat istiadat ketimuran yang dianut oleh bangsa Indonesia sejak dahulu seperti budaya pacaran, seks bebas, dandan ala costplay anime, operasi plastik, menari dengan menampakkan pusar bagi wanita, dan lain sebagainya. Mereka tidak pernah sedikit pun mengomentari budaya-budaya tersebut yang pada dasarnya bertentangan dengan budaya khas ketimuran yang dianut oleh bangsa ini. Standar ganda bukan?! Apakah mereka tidak malu mengaku muslim?

Tulisan ini hanya sebagai renungan bagi muslim siapa saja yang mencela bangsa Arab atas dasar sentimen kesukuan dan kebangsaan. Pastinya ini berbeda ketika kita membahas tentang personal tertentu. Sebab, kelebihan atau kekurangan personal tertentu tidak dapat dikaitkan dengan suku bangsa dalam menilai suku bangsa itu sendiri. Sama halnya penganut agama tertentu juga tidak dapat dijadikan acuan untuk menjustifikasi ajaran agama itu sendiri.

Sebagian orang ketika disebutkan tentang Arab maka yang terpikir olehnya adalah Makkah, gurun pasir, suku Quraisy, Arab Saudi, Jazirah Arab, Yaman dan lain sebagainya. Inilah hal-hal yang identik dengan Arab. Tatkala seseorang mencela bangsa Arab atas dasar kesukuan, apakah ia tidak sadar bahwa ia telah menghina anak keturunan Nabi Ismail? Shahabat Salamah bin Al-Akwa menceritakan:

"مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى نَفَرٍ مِنْ أَسْلَمَ يَنْتَضِلُونَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ارْمُوا بَنِي إِسْمَاعِيلَ! فَإِنَّ أَبَاكُمْ كَانَ رَامِيًا ارْمُوا

“Nabi pernah berjalan melewati sekelompok orang (Arab) yang sedang lomba memanah. Nabi pun bersabda, “Panahlah wahai anak keturunan Ismail, sesungguhnya ayah kalian dahulunya adalah seorang pemanah...” (HR. Al-Bukhari: 2899).

Ketika mereka mencemooh dan menghina bangsa Arab, pernahkah terbersit oleh mereka bahwa kaum Quraisy termasuk dari sasaran hinaan mereka tersebut?! Karena ketika membahas “Islam Arab”, tentu berkaitan dengan kedudukan Rasulullah sebagai bangsa Arab dan asal beliau dari kaum Quraisy. Rasulullah bersabda:

مَنْ يُرِدْ هَوَانَ قُرَيْشٍ أَهَانَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Barangsiapa yang ingin menghinakan Quraisy, Allah ‘Azza wa Jalla akan menghinakannya.” (HR. At-Tirmidzi: 3905 dari Sa’ad bin Abi Waqqash)

Di sini Rasulullah menyampaikan kehinaan akan Allah jatuhkan atas siapa saja yang menghina kaum Quraisy. Bagaimana tidak? Satu-satunya kabilah Arab yang Allah sebutkan dalam Al-Quran dan menjadikannya sebagai salah satu nama surat adalah Quraisy. Suku Rasulullah dan mayoritas shahabat Nabi dari kalangan Muhajirin juga berasal dari kaum Quraisy. Rasulullah bersabda mengenai kaum Muhajirin:

"يَأتِي اللهَ قَوْمٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ نُورُهُمْ كَنُورِ الشَّمْسِ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: أَنَحْنُ هُمْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ , قَالَ: " لَا، وَلَكُمْ خَيْرٌ كَثِيرٌ وَلَكِنَّهُمْ الْفُقَرَاءُ وَالْمُهَاجِرُونَ الَّذِينَ يُحْشَرُونَ مِنْ أَقْطَارِ الْأَرْضِ

“Akan ada suatu kaum yang akan menemui Allah di hari kiamat kelak. Cahaya mereka seperti cahaya mentari.” Abu Bakar bertanya, “Apakah mereka itu kami wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Tidak. Bagi kalian pahala yang banyak. Namun mereka adalah fakir miskin dan kaum Muhajirin yang dikumpulkan dari seluruh seantero bumi.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad: 7072 dari Abdullah bin Amru)

Di saat mereka membenci bangsa Arab, tidakkah mereka ingat bahwa mayoritas penolong Rasulullah dan dakwah beliau adalah bangsa Arab? Khususnya kaum Anshar. Kaum Anshar yang setia berkorban untuk Islam seluruhnya adalah bangsa Arab. Mereka berasal dari 2 kabilah besar kota Yatsrib yang akhirnya berubah nama menjadi Madinah. Rasulullah bersabda,

الأَنْصَارُ لاَ يُحِبُّهُمْ إِلَّا مُؤْمِنٌ وَلاَ يُبْغِضُهُمْ إِلَّا مُنَافِقٌ، فَمَنْ أَحَبَّهُمْ أَحَبَّهُ اللَّهُ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ أَبْغَضَهُ اللَّهُ

Kaum Anshar, tiada yang mencintai mereka selain mukmin dan tiada yang membenci mereka selain munafik. Maka barangsiapa yang mencintai mereka, Allah akan mencintainya dan barangsiapa yang membenci mereka, Allah akan membencinya.” (HR. Al-Bukhari: 3783 dan Muslim: 75 dari Al-Bara bin Azib).

Apakah mereka belum mendapati keutamaan orang-orang Yaman yang juga berasal dari bangsa Arab? Penduduk yang dipuji oleh Nabi secara langsung. Kenyataan sejarah membuktikan salah satu sebab masuknya Islam ke negeri ini adalah melalui para pedagang Arab yang datang ke pesisir Nusantara di mana kebanyakan mereka berasal dari Yaman. Sedari dulu Yaman memang terkenal dengan para pedagangnya dan suka menjelajah guna berdagang. Rasulullah bersabda mengenai Yaman:

أَتَاكُمْ أَهْلُ اليَمَنِ هُمْ أَرَقُّ أَفْئِدَةً وَأَلْيَنُ قُلُوبًا، الْإِيمَانُ يَمَانٍ وَالحِكْمَةُ يَمَانِيَةٌ

“Telah datang kepada kalian penduduk Yaman. Mereka adalah orang yang paling lembut hatinya dan paling halus jiwanya. Iman itu Yaman dan hikmah itu Yaman.” (HR. Al-Bukhari: 4388 dan Muslim: 52 dari Abu Hurairah)

Demikian juga keutamaan Bani Tamim. Khusus Bani Tamim yang mayoritasnya tinggal di Nejed ini sering dituduh sebagai tempat munculnya fitnah “tanduk setan.” Mereka pun menjadikan hadits tersebut untuk mencela bangsa Arab, khususnya Arab Saudi karena dikuasai oleh orang-orang Nejed. Mereka juga mencemooh corak keagamaan yang dianut mayoritas masyarakat Arab Saudi karena pelopornya berasal dari Nejed (Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi) yang juga berasal dari Bani Tamim. Apa hubungannya antara antara corak keagamaan dengan suku? Apa hubungannya antara kekafiran Abu Jahal dan Abu Lahab dengan Quraisy? Kiranya hadits ini dapat menepis mereka dan mematahkan sikap rasis mereka. Abu Hurairah mengatakan,

مَا زِلْتُ أُحِبُّ بَنِي تَمِيمٍ مُنْذُ ثَلاَثٍ سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِيهِمْ، سَمِعْتُهُ يَقُولُ: "هُمْ أَشَدُّ أُمَّتِي عَلَى الدَّجَّالِ" قَالَ: وَجَاءَتْ صَدَقَاتُهُمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "هَذِهِ صَدَقَاتُ قَوْمِنَا" وَكَانَتْ سَبِيَّةٌ مِنْهُمْ عِنْدَ عَائِشَةَ، فَقَالَ: "أَعْتِقِيهَا فَإِنَّهَا مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ"

“Aku senantiasa mencintai Bani Tamim sejak tiga hal yang aku dengar dari sabda Rasulullah tentang mereka. Aku mendengar beliau bersabda, “Mereka (Bani Tamim) umatku yang keras terhadap Dajjal).” Lalu harta zakat mereka tiba, Rasulullah bersabda, “Ini adalah zakat dari kaum kami.” Pernah ada seorang tawanan wanita mereka menjadi milik Aisyah, beliau pun bersabda, “Lepaskanlah wanita itu, sesungguhnya ia dari keturunan Ismail.” (HR. Al-Bukhari: 2543 dan Muslim: 2525)

Hadits ini mengandung 3 keutamaan bagi Bani Tamim. Pertama, mereka adalah orang yang paling keras dan tegas terhadap Dajjal. Ini menunjukkan kokohnya iman mereka dan lurusnya ilmu dan tauhid mereka, karena tatkala fitnah Dajjal muncul banyak manusia yang akan menjadi pengikutnya. Baik karena imannya lemah atau karena tertipu dengan Dajjal yang memiliki banyak kelebihan dan keajaiban di luar akal manusia –dengan izin Allah-. Kedua, penisbahan mereka kepada Rasulullah. Ini merupakan bentuk kesaksian Nabi atas kebaikan mereka, sehingga beliau memasukkan mereka bagian dari kaum beliau. Jika mereka buruk, tidak mungkin Nabi menyandarkan harta zakat mereka ke beliau. Ketiga, pengakuan Nabi bahwa mereka adalah keturunan Nabi Ismail. Maka membenci mereka atas dasar sentimen kesukuan sama saja dengan membenci anak keturunan Nabi Ismail dan Nabi Ismail sendiri. Bahkan Nabi melarang secara eksklusif mencela Bani Tamim:

لَا تَقُلْ لِبَنِي تَمِيمٍ إِلَّا خَيْرًا فَإِنَّهُمْ أَطْوَلُ النَّاسِ رِمَاحًا عَلَى الدَّجَّالِ

“Jangan engkau berkata tentang Bani Tami kecuali yang baik. Sebab mereka manusia yang paling keras dalam memusuhi Dajjal.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad: 17568 dari Ikrimah bin Khalid).

Begitu juga penduduk Syam yang meliputi Suriah, Palestina, Yordania, dan Lebanon. Mayoritas mereka adalah bangsa Arab dan muslim. Anak cucunya para shahabat Nabi yang membuka Syam dan mengusir pengaruh Byzantium dari sana. Sebagian mereka hingga kini masih berjuang mempertahankan Masjidil Aqsha dari gempuran Zionis Yahudi. Baik Masjidil Haram maupun Masjidil Aqsha, kedua masjid tua nan kuno yang dibangun para nabi tersebut berada dalam penjagaan bangsa Arab hingga kini. Rasulullah bersabda:

إِذَا فَسَدَ أَهْلُ الشَّامِ فلَا خَيْرَ فِيكُمْ

“Apabila penduduk Syam telah rusak, maka tidak ada kebaikan pada kalian.” (HR. At-Tirmidzi: 2192)

Seolah-olah hadits ini adalah isyarat agar menjaga baik-baik Syam dan penduduknya. Sebab kebaikan pada umat ini bergantung pada mereka. Apabila mereka rusak, maka rusaklah umat ini. Jika mereka baik, maka baiklah umat Islam ini. Masih banyak keutamaan beberapa kabilah Arab yang tidak disebutkan di sini. Tentu bagi seorang muslim yang lurus imannya, ia tidak akan mau mengotori lisannya mencela suku manapun atas dasar fanatisme kesukuan atau kebangsaan, karena ia faham itu adalah bagian dari kejahiliyahan. Apatah lagi jika itu bangsa Arab, bangsa yang telah Allah pilih untuk menjaga rumah-Nya dan tanah suci-Nya.

Dari seluruh sabda Nabi di atas masihkah kita mau membenci bangsa Arab tanpa dasar yang hak?! Kita boleh saja mengritisi sebagian budaya dan sikap mereka, tetapi bukan hak kita menghukumi dan merendahkan kedudukan mereka hanya karena mereka bangsa Arab, di samping kita juga harus faham mana syariat dan mana budaya. Apatah lagi Rasulullah telah memuliakan mereka dengan sabda-sabda beliau. Kecuali jika memang hendak menjadi musuh Allah dan Rasul-Nya di hari kiamat nanti. Bagi para pembenci bangsa Arab tapi mengaku muslim, renungkanlah sabda-sabda Rasulullah di atas jika masih menganggap beliau seorang Nabi. Fahamilah bahwa kebencian terhadap mereka merupakan kebencian syaitoniyah dan jahiliah yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya. Adapun bagi orang kafir yang berada di luar Islam, maka tulisan ini tidak ada manfaatnya bagi mereka, karena dari awal mereka tidak mengimani Rasulullah dan tidak meyakini ajaran Islam.

Pujian terhadap bangsa Arab bukan saja disebutkan dalam Al-Quran, tetapi juga dalam kitab yang dianut oleh kaum Yahudi dan Kristen hari ini, yaitu Torat Ibrani (Tanakh) menurut istilah Yahudi atau Perjanjian Lama (Bibel) menurut umat Kristiani. Disebutkan dalam Tanakh Yahudi atau Bibel kaum Nasrani bahwa Allah berfirman: “Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.” (Kitab Kejadian 17:20)

Ayat ini menunjukkan bahwa Ismail diberkati oleh Allah, begitu juga keturunannya. Semua faham bahwa mayoritas bangsa Arab hari ini adalah anak cucu Nabi Ismail. Ayat ini juga menunjukkan bahwa pemberkatan itu berasal dari permintaan Nabi Ibrahim (Abraham menurut Bibel). Disebutkan dalam Taurat Yahudi mengenai harapan Ibrahim: “Dan Abraham berkata kepada Allah: “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu.” (Kitab kejadian 17:18)

Lihatlah, bahkan Yahudi dan Kristiani masih mengakui adanya berkat atas Ismael dan keturunannya (bangsa Arab). Ini merupakan pujian dari kitab mereka sendiri. Lantas bagaimana dengan seorang muslim yang Rasul-nya, Nabi-nya, dan junjungannya sendiri berasal dari keturunan Ismail, berasal dari bangsa Arab? Masih layakkah seorang muslim membenci bangsa Arab? Pantaskah para pembenci bangsa Arab disebut mukmin? Wallahu a’lam bish shawab

You may also like